Pada tahun 1325, negara kota Italia, Bologna dan Modena, terlibat dalam perang singkat yang katanya dimulai ketika tentara Modena mencuri sebuah ember kayu
Peristiwa yang dikenal sebagai "Pertempuran Ember Kayu" atau "Pertempuran Zappolino" terjadi di tengah ketegangan yang sedang berlangsung antara kedua kota tersebut. Pada suatu malam, pasukan Modena melakukan serangan terhadap kota Bologna dengan niat untuk merampas kekayaan dan mengganggu perdamaian.
Namun, cerita yang mengaitkan peperangan ini dengan pencurian ember kayu harus dianggap sebagai legenda atau mitos. Meskipun kisah tersebut telah menjadi bagian dari narasi sejarah, para sejarawan modern lebih cenderung menganggapnya sebagai simbolik atau alasan yang dikarang-karang untuk membenarkan konflik.
Sebagai kota-kota yang saling bersaing, Bologna dan Modena memiliki kepentingan ekonomi dan politik yang bertentangan. Sengketa wilayah dan perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh sering kali memicu konflik di antara mereka. Pertempuran Zappolino adalah salah satu contoh dari serangkaian konflik yang terjadi antara kota-kota Italia pada masa itu.
Apa yang Memulai Perang Ember Kayu ?
Pada tahun 1154, Kaisar Romawi Suci Frederick Barbarossa dari Jerman memutuskan bahwa dirinya seharusnya menjadi raja Italia dan menyatakan dirinya sebagai perwakilan bumi yang dipilih oleh Tuhan. Pernyataan ini membuatnya berhadapan dengan bangsa Italia, yang berargumen bahwa pauslah yang memahkotai Barbarossa sebagai Kaisar Romawi Suci, yang berarti paus adalah perwakilan yang diurapi oleh Tuhan.
Setelah pembicaraan dengan Paus Alexander III tidak berhasil, Barbarossa terus mengepung Italia hingga dia mengalami kekalahan dalam Pertempuran Legnano oleh Liga Lombardi yang mendukung paus pada tahun 1176. Barbarossa mundur kembali ke Jerman, tetapi warisannya bagi Italia adalah perselisihan politik yang besar yang membuat negara-negara kota terus berselisih satu sama lain selama berabad-abad.
Pengepungan Barbarossa mungkin telah berakhir, tetapi konflik tetap hidup dan berkobar di Italia. Dua faksi muncul dari perang tersebut: Ghibelline, yang mendukung Kaisar Romawi Suci, dan Guelph, yang mendukung paus.
Pembagian politik ini menyebabkan rasa tidak puas dan persaingan di antara negara-negara kota Italia, yang berarti bentrokan dan perselisihan menjadi hal yang umum dalam beberapa abad setelah pemerintahan Barbarossa.
Bologna dan Modena adalah dua negara kota yang berbatasan dan berada di sisi yang berlawanan dalam spektrum politik. Bologna lebih didominasi oleh faksi Guelph (pendukung paus), sementara Modena sebagian besar mendukung faksi Ghibelline (pendukung kaisar).
Hal ini menyebabkan persaingan yang signifikan antara kedua kota tersebut yang mengakibatkan serangkaian serangan selama bertahun-tahun. Namun, pada tahun 1325, ketegangan akhirnya mencapai titik puncak.
Pencetus Perang
Pada suatu malam tahun 1325, beberapa tentara Modena menyusup ke dalam tembok kota Bologna. Mereka melihat sebuah ember di sumur umum, merampasnya, dan dengan gembira melarikan diri dari kota.
Setelah menemukan ember yang hilang, penduduk Bologna marah dan menuntut agar ember itu dikembalikan. Namun, warga Modena tidak bersedia memenuhi tuntutan tersebut dan menolak. Dengan marah dan merasa terhina, Bologna menyatakan perang total terhadap Modena. Dengan itu, Perang Ember Ek dimulai.
Dalam perselisihan antara Bologna dan Modena, Modena dianggap sebagai pihak yang lebih lemah. Dibandingkan dengan Bologna, negara kota Modena memiliki sumber daya dan pasukan yang jauh lebih sedikit.
Bologna mengumpulkan lebih dari 32.000 pasukan dan membawa pasukan dari kontingen Guelph lainnya di utara Italia sebagai bantuan. Mereka bahkan berhasil mendapatkan dukungan aktif dari paus. Paus John XXII dilaporkan menyatakan kepala magistrat Modena sebagai seorang kafir dan memimpin pasukan infanteri melawan Modena.
Modena hanya berhasil mengumpulkan 7.000 pasukan. Pada permukaan, mereka tampaknya sudah pasti akan menderita kekalahan yang memalukan di tangan pasukan Bologna dan sekutu mereka. Namun, Modena memiliki keuntungan tersendiri dengan memiliki tentara Jerman yang dilatih secara profesional di dalam pasukan mereka, karena Modena merupakan pendukung faksi Ghibelline yang mendukung Kaisar Romawi Suci Jerman. Meskipun pasukan Bologna secara teknis lebih besar, pasukan mereka terdiri sebagian besar dari milisi yang kurang terlatih.
Dengan pasukan yang lebih berpengalaman, pasukan Modena menghadapi pasukan Bologna di luar kota Zappolino. Karena kekacauan dan ketidakorganisan pasukan Bologna, Modena dengan cepat mengalahkan mereka, memaksa pasukan Bologna untuk mundur. Diperkirakan sekitar 2.000 orang tewas di antara kedua belah pihak.
Pasukan Bologna, yang kewalahan dan merasa terhina, tidak memiliki pilihan selain menghentikan serangan dan tetap berada di dalam tembok kota mereka yang aman. Pasukan Modena terus mengolok-olok pasukan Bologna dengan mengadakan dekathlon palsu tepat di luar kota, dan kabarnya mereka bahkan mencuri ember kedua untuk memberikan efek penghinaan yang lebih kuat.
Meskipun perang ini berlangsung hanya dalam jangka waktu singkat, konflik tersebut menimbulkan kerugian dan ketegangan yang cukup besar antara Bologna dan Modena. Pada akhirnya, perdamaian dicapai dan hubungan antara kedua kota membaik.
Pertempuran Zappolino tahun 1325 adalah contoh yang menarik dari sejarah Italia pada abad pertengahan. Walaupun alasan konflik mungkin terkadang membingungkan atau terkesan tidak lazim, peristiwa ini mengingatkan kita akan kompleksitas politik dan persaingan di antara negara kota Italia pada masa itu.